Senin, 24 Juni 2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Persalinan (partus)
adalah suatu proses
pengeluaran hasil konsepsi
(janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui
jalan lahir atau dengan jalan
lain. Adapun pengeluaran
hasil konsepsi yang
lahir melalui jalan lahir yaitu partus biasa
(normal), disebut juga partus spontan,
adalah proses lahirnya
bayi dengan LBK
dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat,
serta tidak melukai
ibu dan bayi,
yang umumnya berlangsung
kurang dari 24
jam. dan pengeluaran
hasil konsepsi yang
lahir melalui jalan lahir yaitu partus luar biasa (abnormal)
ialah persalinan pervaginam
dengan bantuan alat-alat
atau melalui dinding
perut dengan operasi
sesarea. Operasi sesarea
terjadi karena adanya
masalah dalam proses
persalinan letak sungsang.
Dalam menghadapi persalinan
letak sungsang yang
terpenting adalah menentukan
apakah anak akan lahir per
vaginam atau harus dilahirkan dengan
seksio sesarea. dilihat
dari sudut anak,
maka S.C adalah
cara yang terbaik,
oleh karena persalinan
per vaginam bagi anak membawa
angka kematian yang
tinggi (Mochtar, 2012).
|
1
|
Pada tahun 2008,
4.692 jiwa ibu di Indonesia melayang di masa seputar
kehamilan, nifas dan persalinan. Adapun penyebab langsung dari kematian ibu (AKI) adalah,
perdarahan 28%, eklamsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5%, dan abortus 5%. Angka kematian bayi pada
persalinan letak sungsang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan letak kepala. Angka kematian prenatal dengan persalinan letak sungsang mempunyai prosentase 16,8-38,5% di Indonesia. (http://www.bascommetro.com)
Insiden presentasi
bokong ditemukan sekitar 3-4% dari seluruh persalinan tunggal. Sekalipun insidennya kecil tetapi mempunyai resiko yang
besar dan dapat mengakibatkan kematian ibu dan bayi.. Data yang
diperoleh dari rekam medik RSKD Ibu dan
Anak Siti Fatimah Makassar
dari bulan Januari 2010
sampai dengan Desember 2011 yaitu sebanyak 123 (1,72%)
kehamilan dengan letak sungsang dari 7288 kehamilan normal
dan sebanyak 47 (0,66%) kehamilan dengan letak lintang dari 7288 kehamilan normal. (http://bidanshop.blogspot.com/2010)
Berdasarkan uraian latar
belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang perilaku
bidan dalam melakukan pertolongan
persalinan letak sungsang telah dilakukan oleh peneliti di Wilayah Kerja
Puskesmas Titi Papan tahun
2013.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di
atas maka rumusan
permasalahan dalam penelitian
ini adalah “Bagaimanakah
Perilaku Bidan dalam Melakukan Pertolongan
Persalinan Letak Sungsang
di Wilayah Kerja Puskesmas Titi
Papan Tahun 2013 ?”.
1.3
Tujuan Peneliti
1.3.1
Tujuan Umum
Adapun tujuan
umum dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui Perilaku
Bidan dalam Melakukan
Pertolongan Persalinan Letak Sungsang di
Wilayah Kerja Puskesmas
Titi Papan 2013.
1.3.2
Tujuan Khusus
Adapun
tujuan khusus dari penilitian ini adalah
:
a. Untuk
mengetahui karakteristik bidan meliputi umur,pendidikan,dan lama bekerja.
b. Untuk mengetahui
pengetahuan bidan dalam melakukan pertolongan
persalinan letak sungsang.
d. Untuk mengetahui
tindakan bidan dalam melakukan pertolongan
persalinan letak sungsang.
1.4
Manfaat Penelitian
Adapun
manfaat dari penelitian
ini adalah :
a.
Bagi Tempat Penelitian
Kepada Kepala
Puskesmas dan seluruh
staf di Puskesmas
Titi Papan agar
bekerjasama dengan pihak
yang berkompetensi seperti
Dinas Kesehatan dan Organisasi Kesehatan
seperti IDI maupun
IBI, misalnya dengan
memberikan pelatihan dan
seminar untuk memperkaya
pengetahuan bidan dalam melakukan persalinan
letak sungsang.
b.
Bagi Responden
Kepada bidan diharapkan
agar tetap aktif dalam melakukan
persalinan letak sungsang
dan berpartisipasi dalam pelatihan maupun
seminar yang diadakan
pihak Kesehatan guna meningkatkan pengetahuan
bidan dalam melaksanakan
persalinan letak sungsang.
c.
Bagi Petugas Kesehatan
Khususnya Bidan
yang mempunyai keterkaitan
secara langsung dengan
masyarakat lebih berperan
aktif memberikan informasi
dan penyuluhan tentang
persalinan letak sungsang.
d.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Kepada peniliti
selanjutnya agar digunakan
sebagai bahan kepustakaan
dalam melakukan persalinan
letak sungsang.
BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1 Perilaku
Perilaku adalah
suatu aktivitas dari
pada manusia itu
sendiri. Oleh sebab
itu, perilaku manusia
itu mempunyai bentangan
yang sangat luas,
mencakup: berjalan, berbicara,
bereaksi, berpakaian, dan
lain sebagainya. Bahkan
kegiatan internal (internal
activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga
merupakan perilaku manusia
(Notoadmodjo, 2003).
Kemudian dalam perkembangannya, domain
perilaku yang diklasifikasikan oleh
Bloom dibagi menjadi
tiga tingkat:
1.
Pengetahuan (knowledge)
Merupakan hasil
dari “tahu” dan ini
terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu,
pengetahuan umumnya datang
dari penginderaan yang
terjadi melalui panca
indra manusia, yaitu:
indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan
raba, sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan
telinga. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain
yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan
seseorang (Notoadmodjo, 2003).
|
6
|
1.
Awarenes (kesadaran),
dimana responden menyadari
dalam arti mengetahui
terlebih dahulu terhadap
stimulus.
2.
Interest (merasa
tertarik) dimana responden
mulai tertarik dengan
stimulus atau objek
tersebut, disini sikap
subjek sudah mulai
timbul.
3.
Evaluation (menimbang-nimbang), terhadap
baik atau tidaknya
stimulus tersebut bagi
dirinya. Hal ini berarti
sikap responden sudah
lebih baik lagi.
4.
Trial (mencoba),
dimana responden mulai
mencoba melakukan sesuatu
sesuai dengan apa
yang dikehendaki stimulus.
5.
Adaption (beradaptasi), dimana responden sudah
berperilaku baru sesuai
dengan pengetahuan, kesadaran,
dan sikapnya terhadap
stimulus.
Pengetahuan yang
dicakup di dalam
domain kognitif mempunyai
6 tingkat, (Notoadmodjo, 2003) yakni :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan
sebagai mengingat suatu
materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk
kedalam pengetahuan tingkatan
ini adalah meningkat
kembali (recall) terhadap
suatu yang spesifik
dari seluruh bahan
yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (comprehention)
Memahami diartikan
sebagai suatu kemampuan
untuk menjelaskan secara
benar tentang objek
yang diketahui dan
dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar.
3. Aplikasi (application)
Diartikan sebagai
kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah
dipelajari pada situasi
real (sebenarnya).
4. Analisis
(analysis)
Analisis adalah
suatu kemampuan untuk menjabarkan
suatu materi ke
dalam komponen-komponen, tetapi
masih didalam struktur
organisasi tersebut yang
masih ada kaitannya
antara satu dengan
yang lainnya.
5.
Sintesis
(synthesis)
Sintesis merupakan
suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian didalam suatu
bentuk keseluruhan yang
baru.
6.
Evaluasi
(evaluation)
Evaluasi berkaitan
dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu
materi atau objek,
pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
cara wawancara atau
angket yang menanyakan
isi materi yang
diukur daari suatu
objek penelitian atau
responden.
2.Sikap (attitude)
Sikap adalah
merupakan reaksi atau
respons seseorang yang
masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau
objek. Allport (1954)
menjelaskan bahwa sikap
itu mempunyai 3
komponen pokok, yakni :
a.
Kepercayaan (keyakinan),
ide dan konsep
terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional
atau evaluasi emosional
terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk
bertindak (trend to
behave).
Seperti halnya
dengan pengetahuan, sikap
ini terdiri dari
berbagai tingkatan, yakni :
1.
Menerima
(Receiving)
Menerima, diartikan
bahwa orang (subjek)
mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan
(objek). Misalnya sikap
orang terhadap gizi
dapat dilihat dari
kesedihan dan diperhatian
itu terhadap ceramah.
2.
Merespons (Responding)
Memberikan jawaban
apabila ditanya, mengerjakan
dan menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi
dari sikap. Karena
dengan suatu usaha
untuk menjawab pertanyaan
atau mengerjakan tugas
yang diberikan, lepas
pekerjaan itu bener
atau salah adalah
berarti orang menerima
ide tersebut.
3.
Menghargai (valuing)
Mengajak orang
lain untuk mengerjakan
atau mendiskusikan dengan
orng lain terhadap
suatu masalah adalah
suatu indikasi sikap
tingkat tiga.
4.
Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab
atas segala sesuatu
yang telah dipilihnya
dengan segala resiko
adalah merupakan sikap
yang paling tinggi.
3.
Praktek atau
tindakan (practice)
Suatu sikap
belum otomatis terwujud
dalam suatu tindakan
(overt behavior). Untuk
terwujudnya sikap menjadi
suatu perbuatan nyata
diperlukan factor pendukung
atau suatu kondisi
yang memungkinkan, antara
lain adalah fasilitas
(Notoadmodjo, 2003).
Praktek ini
mempunyai beberapa tingkatan :
1. Persepsi (perception)
Mengenal dan
memilih berbagai objek
sehubungan dengan tindakan
yang akan di
ambil adalah merupakan
praktek tingkat pertama.
2. Respon Terpimpin
(Guided respons)
Dapat melakukan
sesuatu sesuai dengan
urutan yang benar
sesuai dengan contoh
adalah merupakan indicator
praktek tingkat dua.
3. Mekanisme (Mechanisme)
Apabila seseorang
telah dapat melakukan
sesuatu dengan benar
secara otomatis, atau
sesuatu itu sudah
merupakan kebiasaan maka
ia sudah mencapai
praktek tingkat tiga.
4. Adaptasi (Adaption)
Adaptasi
adalah suatu praktek
atau tindakan yang
sudah berkembang dengan
baik. Artinya tindakan
itu sudah dimodifikasinya sendiri
tanpa mengurangi kebenaran
tindakannya tersebut.
2.2
Bidan
Pengertian bidan
dan bidang praktiknya
secara internasional telah
diakui oleh Internasional
Confederation of Midwives
(ICM) pada tahun
1972, Internasional Federation of Gynecologist
and Obstetrition (FIGO) pada tahun
1973, WHO, dan
badan lainnya. Pada
pertemuan Dewan di
Kobe tahun 1990,
ICM menyempurnakan defenisi
tersebut yang kemudian
disahkan oleh FIGO (1991)
dan WHO (1992). Kemudian
pada tanggal 19
Juli 2005, ICM memperbarui
kembali definisi bidan.
Secara lengkap definisi
bidan adalah seseorang
yang telah menjalani
program pendidikan bidan, yang
diakui oleh negara
tempat ia tinggal, dan
telah berhasil menyelesaikan
studi terkait kebidanan
serta memenuhi persyaratan
untuk terdaftar dan/atau
memiliki izin formal untuk
praktek bidan.
Ikatan Bidan Indonesia
(IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus
dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah
Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk
diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.
Menurut Kepmenkes
No.KH.02.02/Menkes/149/1/2010 BAB 1 pasal 1 bidan adalah Seorang perempuan yang
lulus pendidikan kebidanan yang telah teresgitrasi sesuai dengan peraturan
Perundang-undangan.
Berdasarkan adanya
tugas dan peran
bidan, maka fungsi
seseorang bidan ada 4 yakni,
sebagai berikut :
1.
Sebagai
Pelaksana
Sebagai pelaksana,
bidan memiliki tiga
kategori tugas, yaitu
tugas mandiri, tugas kolaborasi, dan tugas
ketergantungan.
2.
Sebagai
Pengelola
Sebagai pengelola
bidan memiliki 2 tugas, yaitu
tugas pengembangan pelayanan
dasar kesehatan dan
tugas partisipasi dalam
tim.
3.
Sebagai
Pendidik
Sebagai pendidik
bidan memiliki 2
tugas yaitu sebagai
pendidik dan penyuluh
kesehatan bagi klien
serta pelatih dan
pembimbing kader.
4.
Sebagai
Peneliti
Bidan melakukan
investigasi atau penelitian
terapan dalam bidang
kesehatan baik secara
mandiri maupun berkelompok (Soepardan, 2008).
2.3 Letak Sungsang
2.3.1 Pengertian
Letak Sungsang
Letak sungsang
adalah janin yang
letaknya memanjang dengan
kepala di fundus
uteri dan bokong
berada di bagian
bawah kavum uteri (Wiknjosastro, 2002).
Menurut Sofian
(2011) Letak sungsang
adalah janin yang
letaknya memanjang (membujur) dalam Rahim, kepala
berada
di fundus dan bokong
di bawah. Menurut (Chapman, 2006) bila bayi letak longitudinal
dan bokong bayi berada
disegmen bawah uterus ibu
adalah presentasi bokong/letak sungsang. Menurut Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia
Yulianti (2010) Letak sungsang adalah letak memanjang
dengan bokong sebagai bagian yang terendah
(presentasi bokong).
Sedangkan menurut
Oxorn (2010) Letak sungsang adalah letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas. Panggul janin merupakan kutub bawah. Penunjuknya
adalah
sacrum. Sacrum kanan
depan (RSA = Right Sakrum Anterior) adalah presentasi
bokong dengan sacrum
janin ada di kuadran kanan depan
panggul ibu, dan diameter bitrochanterica janin
berada pada diameter oblique dextra panggul ibu.
2.3.2
Etiologi
Faktor-faktor etiologi presentasi bokong meliputi
prematuritas, air ketuban yang berlebihan, kehamilan ganda, placenta previa, panggul sempit, fibromyoma, hydrochepalus, dan janin
besar. Setiap keadaan yang mempengaruhi
masuknya kepala janin ke
dalam panggul mempunyai peranan dalam etiologi
presentasi bokong. Banyak yang
tidak diketahui sebabnya, dan setelah
mengesampingkan (hanya karna
kebetulan saja. Sebaliknya,
ada presentasi bokong yang membakat. Beberapa ibu melahirkan bayinya smuanya dengan presentasi bokong, menunjukkan bahwa bentuk panggulnya
adalah sedemikian rupa sehingga lebih cocok
untuk presentasi bokong dari
pada presentasi kepala. Implantasi placenta di fundus
atau di cornu
uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong (Oxorn,
2010).
2.3.3
Klasifikasi
Klasifikasi Letak Sungsang
1. Letak Bokong Murni ; presentasi bokong murni, dalam bahasa inggris “Frank Breech”. Bokong saja
yang menjadi bagian depan
sedangkan kedua tungkai lurus ke atas.
2. Letak
Bokong Kaki (presentasi bokong kaki) disamping
bokong teraba kaki dalam
bahasa inggris “Complete Breech”.
3. Letak
Lutut (presentasi lutut).
4. Letak
Kaki (presentasi kaki).
Tergantung pada terabanya
kedua kaki atau lutut atau
hanya teraba satu kaki atau
lutut disebut letak kaki atau
lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Offset, 1984)
Gambar : Klasifikasi letak sungsang
2.3.4
Diagnosis
Diagnosis letak
sungsang pada umumnya
tidak sulit, pada
pemeriksaan luar dibagian
bawah uterus tidak
dapat diraba bagian
yang keras dan
bulat yakni kepala,
dan kepala teraba
di fundus uteri.
Kadang-kadang bokong janin
teraba bulat dan
dapat memberi kesan
seolah-olah kepala, tetapi
bokong tidak dapat
digerakkan semudah kepala.
Seringkali wanita tersebut
menyatakan bahwa kehamilannya
terasa lain daripada
kehamilan yang terdahulu.
Karena terasa penuh
dibagian atas dan
gerakan terasa lebih
banyak dibagian bawah.
Denyut jantung janin
pada umumnya ditemukan
setinggi atau sedikit
lebih tinggi daripada
umbilicus (Wiknjosastro, 2002).
2.3.5
Prognosis
Prognosis Letak Sungsang
1.
Bagi ibu :
Kemungkinan robekan pada perineum
lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah
dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.
2. Bagi
anak :
Prognosa tidak begitu baik, karena adanya gangguan
peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali
pusat
terjepit antara kepala dan panggul,
anak bisa menderita
asfiksia
(Mochtar, 2012).
2.3.6
Penanganan Letak
Sungsang Dalam Kehamilan
Pada waktu
pemeriksaan antenatal dijumpahi
letak sungsang, terutama
pada primi gravida,
hendaknya diusahakan melakukan
versi luar menjadi
presentasi kepala, versi
luar sebaiknya dilakukan
pada kehamilan antara
34 dan 38
minggu. Pada umumnya
versi luar sebelum
minggu ke 34
belum perlu dilakukan
karena kemungkinan besar janin
masih dapat memutar
sendiri, sedangkan setelah
minggu ke 38
versi luar sangat
sulit untuk berhasil
karena janin sudah
besar dan jumlah
air ketuban telah
bekurang.
Sebelum melakukan
versi luar, diagnosis
letak janin harus
pasti, sedangkan denyut
jantung janin harus
dalam keadaan baik,
versi luar hendaknya
dilakukan dengan kekuatan
ringan tanpa mengadakan
paksaan, kontraindikasi lain
untuk melakukan versi
luar adalah panggul
sempit, perdarahan antepartum
hipertensi, hamil kembar,
plasenta previa. Pada
panggul sempit tidak
ada gunanya melakukan
versi luar, karena
meskipun berhasil menjadi
presentasi kepala, akhirnya
perlu dilakukan seksio
sesarea.
Pada letak
janin dalam uterus
bergantung pada proses
adaptasi janin terhadap
ruangan di dalam
uterus karena pada
kehamilan sampai kurang
lebih 32 minggu,
jumlah air ketuban
relative lebih banyak,
sehingga memungkinkan janin
bergerak dengan leluasa.
Dengan demikian janin
dapat menempatkan diri
dalam presentasi kepala,
letak sungsang atau
letak lintang (Wiknjosastro, 2002).
2.3.7
Penanganan Letak Sungsang
Dalam Persalinan
Penggunaan seksio
secara untuk bayi
sungsang, dalam keyakinan
bahwa ini lebih
aman (chapman, 2006).
Disejumlah pusat
persalinan tingkat pembedahan
caesar 65 %
dari semua bayi
sungsang. Dalam kasus-kasus
tertentu, khususnya jika
bayi sangat kecil
atau sangat besar,
biasanya dilakukan bedah
caesar. Alasan dalam
kasus bayi lahir
kecil (kurang dari
1500 gram atau
kehamilan 32 minggu)
adalah dokter cemas
kepala bayi yang
lembut akan rusak
selama proses kelahiran
melalui vagina. Bayi
berukuran besar (lebih
dari 4000 gram)
jelas menyulitkan persalinan
(Llwellyn, 2005).
Cara
melahirkan pervaginam
Terdiri dari
partus spontan (pada
letak sungsang janin
dapat lahir secara
spontan seluruhnya) dan manual
aid (manual hilfe).
Waktu memimpin
partus dengan letak
sungsang ada dua fase :
Fase
I: Fase menunggu
Sebelum bokong
lahir seluruhnya, kita
hanya melakukan observasi.
Bila tangan tidak
menjungkit ke atas (nuchee
arm), persalinan akan
mudah. Sebaiknya jangan
dilakukan ekspresi Kristeller,
karena hal ini
akan memudahkan terjadinya
nuchee arm.
Fase
II: Fase untuk bertindak
cepat
Bila badan
janin sudah lahir
sampai pusat, tali
pusat akan tertekan
antara kepala dan
panggul, maka janin
harus lahir dalam
waktu 8 menit.
Untuk mempercepat lahirnya
janin dapat dilakukan manual
aid.
Persalinan Spontan
Persalinan Bahu Dengan Cara KLASIK
Cara klasik
(Deventer)
Penggang bokong
dengan menggunakan ibu
jari berdampingan pada
os sakrum dan
jari lain di
lipat paha. Kemudian
janin ditarik ke
arah bawah, sehingga
skapula berada di
bawah simfisis. Lalu
lahirkan bahu dan
lengan belakang, kemudian lengan
depan.
Gambar 4 Tubuh janin dipegang dengan pegangan femuropelvik.
Dilakukan pemutaran 1800 sambil melakukan
traksi curam kebawah sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dibawah arcus
pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 5 Sambil dilakukan traksi curam bawah, tubuh janin
diputar 1800 kearah yang berlawanan sehingga bahu depan menjadi
bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 6 Tubuh janin diputar kembali 1800 kearah
yang berlawanan sehingga bahu belakang kembali menjadi bahu depan dibawah arcus
pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 7 Melahirkan lengan belakang pada tehnik melahirkan
bahu cara KLASIK
Gambar 8 Melahirkan lengan depan pada tehnik melahirkan bahu
cara KLASIK
Cara lovset
Setelah sumbu
bahu janin berada
dalam ukuran muka
belakang, tubuhnya ditarik kebawah
lalu dilahirkan bahu
serta lengan belakang. Setelah itu
janin di putar 90 0 seningga bahu
depan menjadi bahu
belakang, lalu dikeluarkan seperti biasa.
Gambar 4 Tubuh janin dipegang dengan
pegangan femuropelvik.
Dilakukan pemutaran 1800 sambil
melakukan traksi curam kebawah sehingga bahu belakang menjadi bahu depan
dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 5 Sambil dilakukan traksi curam
bawah, tubuh janin diputar 1800 kearah yang berlawanan sehingga
bahu depan menjadi bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 6 Tubuh janin diputar kembali
1800 kearah yang berlawanan sehingga bahu belakang kembali
menjadi bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan
Cara mueller
Tarik janin
vertikal ke bawah
lalu dilahirkan bahu
dan lengan depan.
Cara melahirkan bahu-lengan
depan bisa spontan
atau dikait dengan
satu jari menyapu
muka. Lahirkan bahu belakang
dengan menarik kaki
ke atas lalu
bahu-lengan belakang dikait menyapu
kepala.
Gambar 9 (kiri)
Melahirkan bahu depan dengan ekstraksi pada bokong dan bila perlu dibantu
dengan telunjuk jari tangan kanan untuk mengeluarkan lengan depan
Gambar 10 (kanan)
Melahirkan lengan belakang (inset : mengait lengan atas dengan telunjuk jari
tangan kiri penolong)
Cara breacht
Bokong ditangkap,
tangan diletakkan pada
paha dan sakrum, kemudian janin
di tarik ke atas. Biasanya
hal ini dilakukan
pada janin kecil
dan multipara.
Cara potter
Dikeluarkan dulu
lengan dan bahu depan
dengan menarik janin
kebawah dan menekan
dengan 2 jari
pada skapula. Badan janin
diangkat ke atas untuk
melahirkan lengan dan bahu
belakang dengan menekan skapula
belakang.
Melahirkan kepala
Mauriceau (Veit smellie)
Masukkan jari-jari
dalam mulut (muka mengarah ke kiri = jari
kiri, mengarah ke kanan = jari
kanan ). Letakkan anak menunggang
pada lengan sementara
tangan lain memegang pada tengkuk, lalu tarik ke bawah
sampai rambut dan kepala dilahirkan. Kegunaaan jari dalam
mulut, hanya untuk menambahkan
fleksi kepala.
Gambar 16 Tehnik Mouriceau
De snoo
Tangan kiri
menadah perut dan dada serta
2 jari diletakkan di leher (menunggang kuda). Tangan
kanan menolong menekan
di atas simfisis. Perbedaannya
dengan Mauriciau ialah di
sini tangan tidak masuk
dalam vagina.
Wigand Martin – Winckel
Satu tangan (kiri) dalam jalan
lahir dengan telunjuk
dalam mulut janin
sedang jari tengah dan
ibu jari pada rahang
bawah. Tangan lain menekan
di atas simfisis atau
fundus.
Naujoks
Satu tangan
memegang leher janin
dari depan, tangan lain
memegang leher pada bahu,
tarik janin ke
bawah dengan bantuan dorongan dari
atas simfisis.
Cara praque
terbalik
Dilakukan pada
ubun-ubun kecil terletak
sebelah belakang. Satu tangan
memegang bahu janin
dari belakang, tangan lain
memegang kaki lalu menarik
janin ke arah perut
ibu dengan kuat.
Ekstrasi
Terdiri dari atas
ekstraksi pada kaki dan
ekstraksi pada bokong, karena ekstraksi pada
bokong sedikit sukar, kita
sedapat mungkin berusaha untuk melakukan
ekstraksi pada kaki, sebab
mudah di kerjakan.
Perasat Profilaksis
Pinard
Maksudnya adalah
melakukan ekstraksi pada
kaki sebelum ada indikasi, hanya untuk
berjaga-jaga. Caranya dengan menekan
paha anak terhadap perutnya, dengan sendirinya kaki akan jatuh
dan dapat dikeluarkan (Mochtar, 1998).
2.4 Peranan Bidan
dalam Kelahiran Letak
Sungsang
a.
Mendukung ibu
dalam kemampuan alamiahnya
melahirkan bayi
b.
Meyakinkan bahwa
ia mempunyai dukungan
kuat untuk dirinya
sendiri, bidan lain
yang berpengalaman dalam
psikologi, persalinan dan
kelahiran non medis
c.
Meyakinkan dan
mempertahankan pengetahuan keterampilan
dan teknik yang
prima untuk membantu
kelahiran sungsang
d.
Bidan
harus mampu mengenali,
mengkaji dan merespon
bila terjadi masalah
dalam kelahiran sungsang
(Chapman, 2006).
Pada Ibu,
Trias Klasik Komplikasi :
a.
Perdarahan
b.
Infeksi
c.
Trauma
jalan lahir
Pada janin
a.
Hipoksia
terindentifikasi sebagai penyebab
tersering kematian bayi
sungsang. Cesdi (2000)
mengatakan bahwa tidak
diketahuinya dan tindakan
terlalu cepat merupakan
factor utama
b.
Prolapse
tali pusat
Insiden 3.7%
pada bayi sungsang
lebih sering pada
primigravida daripada multigravida
6% dan 3%,
lebih umum pada
perdalinan premature dan
presentasi inkomplet (tipe
kaki meumbung presentasi
kepala), prolapse tidak
selalu menyebabkan kompresi
tali pusat, bila
serviks telah dilatasi
penuh kelahiran pervaginam
masih mungkin.
c.
Persalinan macet
setelah kepala turun
Insiden 8,5%
aterm. Bila sungsang
komplit atau tubuh
dengan mudah melalui
pelvik maka kepala
dapat diharapkan melewatinya
tanpa kesulitan. Pada
bayi aterm bila
kepala tidak melewati
pelvic dan servik,
bokong juga pasti
tidak bisa dan
persalinan tidak maju.
d.
Hiperektensi kepala
bayi
Insiden 5%.
Hiperektensi kepala bayi
dapat terjadi karena
factor berikut:
·
Tali
pusat menjerat leher
bayi
·
Lokasi
plasenta
·
Abnormal
uterus atau bayi
·
Bisa
juga disebabkan persalinan
dengan intervensi yang
tidak lazim oleh pemberi asuhan
harus mengejan spontan
bukan ditarik. Penarikan
dapat menyebabkan ekstensi
lengan dan kepala
bayi.
e.
Trauma
kepala dan leher
Penarikan kepala
dan leher oleh
pemberi asuhan dapat
menyebabkan cidera otak
(Chapman, 2006).
2.6
Kerangka Konsep
Kerangka konsep
adalah kerangka hubungan
antara konsep-konsep yang
ingin diamati atau diukur melalui
penelitian yang akan dilakukan (Notoadmojo,
2010). Kerangka konsep
dalam penelitian ini adalah perilaku
bidan dalam melakukan
pertolongan persalinan letak sungsang di
Wilayah Kerja Puskesmas
Titi Papan tahun
2013.
|
Perilaku
Bidan
-Pengetahuan
-Sikap
-Tindakan
|
|
Pertolongan
persalinan letak sungsang
|
Gambar 2.7 Kerangka
konsep dari perilaku
bidan dalam melakukan
pertolongan persalinan letak sungsang di
Wilayah Kerja Puskesmas
Titi Papan tahun
2013.
Adapun kerangka
konsep dari penelitian
ini :
a. Variabel Independent
(Variabel Bebas) terdiri
dari pengetahuan, sikap,
dan tindakan.
b. Variabel Dependent
(Variabel Terikat) terdiri
dari pertolongan persalinan letak sungsang.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif rancangan cross sectional yaitu
suatu metode penelitian
yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan fenomena yang
terjadi di dalam
masyarakat. Metode penelitian
deskriptif dilakukan terhadap
sekumpulan objek yang
biasanya bertujuan untuk melihat gambaran
fenomena (termasuk kesehatan)
yang terjadi di
dalam suatu populasi
tertentu (Notoadmojo, 2010).
3.2 Populasi
dan Sampel
3.2.1 Populasi
Menurut Notoadmojo
(2010). Populasi adalah
keseluruhan objek penelitian
atau objek yang
diteliti. Penelitian ini adalah seluruah
bidan sebanyak 30
orang di Wilayah
Kerja Puskesmas Titi
Papan tahun 2013.
3.2.2 Sampel
Sampel adalah
objek yang diteliti
dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Notoadmojo,
2010)
Pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah dengan
cara total sampling
yaitu sampel yang
mewakili suatu wilayah
sebanyak 30 orang.
Adapun
kriteria sampel yaitu :
Bidan yang berada
di Wilayah kerja Puskesmas Titi
Papan dan bidan
yang bersedia menjadi
sampel.
3.3 Jenis dan Cara
Pengumpulan Data
3.3.1 Jenis
Data
Jenis data
yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data
primer yaitu data
yang di peroleh
langsung dari responden
berdasarkan hasil pengamatan,
yaitu ibu bidan. Dan
data sekundernya diambil
dari data rekam
medis (medical record)
Puskesmas.
3.3.2 Cara
Pengambilan Data
Pengumpulan data
dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan
kuesioner yang berisikan
item-item yang berhubungan
dengan masalah yang
akan diteliti, masing-masing
item berhubungan dengan
masalah yang diteliti,
masing-masing item akan
diberi skor 2 dan jika
responden menjawab salah
akan diberi skor 1
pernilaian.
1.
Pengetahuan
Untuk
kategori pengetahuan akan
diidentifikasi berdasarkan tingkat
pengetahuan responden pengetahuan
baik, cukup dan
kurang sebagai berikut :
a.
Kategori
pengetahuan baik apabila
responden mendapat skor
13-20
b.
Kategori
pengetahuan cukup apabila
responden mendapat skor
7-12
c.
Kategori
pengetahuan kurang apabila
responden mendapat skor
1-6
2.
Sikap
Pada
pertanyaan yang menyangkut
tentang sikap, maka
pada jawaban yang
diberikan kepada responden
akan diberikan ketentuan
dengan menggunakan skala
likert yaitu untuk
mengukur sikap, pendapat,
persepsi seseorang tentang
gejala atau masalah
yang ada dimasyarakat
atau dialaminya (Hidayat,
2007).
a.
Sikap
dikatakan Positif jika
memperoleh nilai :
26-40
b.
Sikap
dikatakan Negatif jika
memperoleh nilai :
10-25
3.
Tindakan
Cara
menghitung data ini
dengan menggunakan skala
guttman yaitu skala
yang bersifat tegas
dan konsisten dengan
memberikan jawaban yaitu
tegas seperti jawaban
dari pernyataan ya
dan tidak, positif
dan negatif, setuju
dan tidak setuju,
benar dan salah
(Hidayat, 2007).
Pada pertanyaan
yang menyangkut tentang
tindakan, maka pada
jawaban yang diberikan
responden akan diberikan
ketentuan nilai :
a.
Dilakukan jika responden memperoleh
nilai : 11-20
b.
Tidak
dilakukan jika responden
memperoleh nilai : 1-10
3.4
Pengolahan
Data
Data yang
dikumpul di olah
dengan cara manual
dengan langkah sebagai
berikut
1.
Editing
: Data yang dikumpulkan
kemudian diperiksa, bila
terdapat kesalahan dalam
pengumpulan data dapat
diperbaiki dengan cara
memeriksa jawaban yang
benar.
2. Coding
: Data yang telah
terkumpul diberi kode
dalam bentuk angka.
3.
Tabulating
: Untuk mempermudah pengolahan
dan analisa data
serta pengambilan kesimpulan,
maka dapat dimasukkan
kedalam table distribusi
frekuensi
4.
Saving
: data yang telah
diolah dan disimpulkan
kemudian di simpan
untuk ditampilkan kembali.
3.5 Analisa Data
Analisa data
dilakukan secara deskriptif
dengan melihat presentase
data yang telah
terkumpul dan disajikan
dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi. Analisa
data kemudian dilanjutkan
dengan membahas hasil
penelitian dengan menggunakan
teori dan kepustakaan
yang ada serta
hasil penelitian lain
yang berhubungan dengan
judul di atas
yang pernah dilakukan.
P =
x
100 %
Keterangan :
P = Persentase
F = Jumlah Jawaban
N = Jumlah Soal
3.6.
Definisi Operasional
|
No
|
Variabel
|
Defenisi
Operasional
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala
|
|
1.
|
Pengetahuan
|
Pengetahuan adalah segala informasi yang ada
dimasyarakat tentang persalinan letak sungsang
|
Kuesioner
|
-Baik : 13-20
-Cukup : 7-12
-Kurang : 1-6
|
Ordinal
|
|
2.
|
Sikap
|
Sikap adalah responden dari bidan dalam melakukan
persalinan letak sungsang
|
Kuesioner
|
-Positif : 26-40
-Negatif : 10-25
|
Ordinal
|
|
3.
|
Tindakan
|
Tindakan adalah suatu sikap dan respon bidan dalam
melakukan persalinan letak sungsang
|
Kuesioner
|
-dilakukan : 11-20
-tidak dilakukan : 1-10
|
Ordinal
|
|
4.
|
Persalinan Letak Sungsang
|
Persalinan sungsang adalah
persalinan untuk melahirkan janin yang membujur dalam uterus dengan bokong
atau kaki pada bagian bawah dimana bokong atau kaki akan dilahirkan terlebih
dahulu daripada anggota badan lainnya.
|
-
|
|
|
Langganan:
Postingan (Atom)